Jalan-Jalan Sehari dan Tersesat di Tainan, Kota Tertuanya Taiwan

0 comment(s)

Jalan-Jalan Sehari dan Tersesat di Tainan, Kota Tertuanya Taiwan

Sesuai dengan rencana, begitu memutuskan untuk berkunjung ke Kaohsiung, saya juga berencana untuk bertandang ke kota tertua di Taiwan, yaitu Tainan. Jadilah akhirnya kemarin pergi naik local train dengan harga karcis NT$56, atau sekitar Rp. 18.000.

Sepanjang perjalanan, kereta dengan rute Kaohsiung - Douliu ini berhenti di setiap stasiun. Mirip kalau kita naik kereta komuter Jabodetabek di Jakarta, bedanya disini hampir setiap stasiun sepi, yang naik turun di setiap stasiun tidak sampai puluhan orang. Atau mungkin karena pas di tengah hari.

Keretanya bersih dan nyaman, dengan tempat duduk empuk berhadap-hadapan. Lucunya di setiap stasiun asisten masinis harus menggunakan kunci kontrol untuk membuka pintu kereta. Baru setelah dia memutar kunci dan menekan tombol, semua pintu kereta terbuka.

Sepanjang perjalanan, kereta dengan rute Kaohsiung - Douliu ini berhenti di seti
Pemandangan di peron stasiun kereta api Tainan

Pemandangannya tidak ada yang spesial sepanjang jalur ini, hanya satu distrik ke distrik lain dengan bangunan rumah serta apartemen bertingkat rendah yang bentuknya hampir sama semua. Pada saat meninggalkan Kaohsiung sedang hujan cukup deras, saya berharap di Tainan semoga sudah reda. Perjalanan dengan kereta lokal ini memakan waktu sekitar 50 menit.

Begitu sampai di Tainan, stasiun tuanya menyambut kami. Mengingatkan saya akan stasiun kereta tua di kota-kota besar pulau Jawa. Dari sini kami berencana untuk naik shuttle bus yang memang dipersiapkan pemerintah daerah Tainan untuk wisata, yaitu No. 88 dan 99. Bus ini akan melewati tempat-tempat historis dan menarik di seputar kota ini.

Ternyata tourist information di Tainan tidak seperti di Kaohsiung, sangat sederhana. Begitu keluar dari stasiun, hanya ada satu meja dengan petugas yang menunggu. Kalau ditanya mengenai kemahiran bahasa Inggris, saya lebih kagum dengan petugas-petugas informasi di Kaohsiung yang dapat memberikan informasi jelas dalam bahasa tersebut.

Di tempat pemberhentian bus, informasi dimana kami harus menunggu bus No. 88 dan 99 ini kurang jelas. Karena ada 4 halte pemberhentian dan masing-masing ada layar jadwal kedatangan bus, yang ternyata memuat semua jadwal. Setelah menunggu di halte yang salah, akhirnya terlewatlah bus No. 88 yang sudah kami tunggu-tunggu dari tadi. Ternyata jika menunggu shuttle bus ini, harus di halte pertama yang ada loket pembelian tiket.

Karena tidak mau menunggu terlalu lama untuk bus berikut yang akan lewat 45 menit lagi, akhirnya saya cari alternatif untuk naik bus No. 2 ke daerah kota tua Tainan, yaitu Anping Street. Di sini pun tidak sempat berkeliling, karena bertujuan untuk menunggu bus No. 99. Saya sangat tertarik untuk menuju ke Cigu Salt Mountain. Tempat produksi garam terbesar di Taiwan, yang menggunung bagai hamparan salju (katanya!).

Kenapa saya bilang 'katanya'? Karena setelah dapat bus No. 99 dimana jadwal jalannya hanya 3 kali sehari (di musim liburan musim panas dan musim dingin serta hari libur, jadwal bus bertambah jadi 8 - 10 kali per hari), begitu sampai di Salt Field Ecological & Cultural Village, bus pun hanya berhenti sampai disitu! Saya sudah was-was juga ketika pertama melihat di peta rute bus, untuk 6 pemberhentian berikutnya jalur rute bukan tergambar sebagai garis solid, tapi garis terputus-putus.

Kenapa saya bilang 'katanya'? Karena setelah dapat bus No. 99 dimana jadwal jala
Cigu Salt Mountain, tujuan yang tidak kesampaian

Tadinya saya kira dari pemberhentian terakhir itu kami bisa jalan kaki ke Cigu, ternyata setelah pasangan saya berusaha berkomunikasi dengan Bahasa Mandarin pas-pasan dengan pengemudi bus, kami menyerah tidak mengerti mengapa bus tidak lanjut ke Cigu Salt Mountain. Berarti ini PR yang harus saya tanyakan ke 'mister Google' nanti.

Singkat cerita, akhirnya untuk balik kami harus menunggu di pinggir jalan yang sekitarnya merupakan ladang garam, menunggu bus No. 10, yang katanya bisa mengangkut kami balik ke daerah tengah kota. Bus No. 10 pun muncul, tapi dari arah yang berbeda. Sang pengemudi sangat baik hati untuk stop di seberang dan menanyakan kami mau kemana. Setelah setengah mengerti dengan bahasa Tarzan plus Mandarin yang pas-pasan, akhirnya kami memutuskan ikut naik bus tersebut karena sang pengemudi bilang akan menuju ke Tainan Train Station juga. Kami kira bus akan menjalani rute sisanya dan balik lagi melalui jalan yang sama. Ternyata jalur balik berbeda dengan jalur pertama kami datang. Sambil terkantuk-kantuk sepanjang jalan dan bersyukur terangkut oleh bus ini, kami menghabiskan waktu 50 menit untuk balik ke Tainan Train Station.

Karena penasaran dengan daerah kota tua Tainan, dimana merupakan kota pertama di Taiwan, akhirnya kami melompat lagi naik ke bus No. 2 dari seberang stasiun kereta, kembali menuju Anping. Untunglah sempat mengunjungi Anping Tree House, dimana rumah yang berada di belakang bangunan Tait & Co. ini diliputi oleh akar-akar pohon banyan, menarik. Kalau di Angkor Wat, Kamboja mungkin seperti akar-akar pohon yang merambati candi-candinya.

Petunjuk untuk tempat-tempat bangunan bersejarah di sekitar daerah Anping

Dari Anping Tree House dan rumah museum Tait & Co. akhirnya kami berjalan ke arah Anping Fort, dan kemudian menuju ke jalan tertua di Taiwan, yaitu Yanping Old Street. Rasa penasaran akan Yanping terbayar sudah, akhirnya ketemu juga dengan jalan kecil atau lorong ini, dimana di kiri kanannya terdapat toko-toko penjual souvenir dan jajanan. Mungkin karena datang saat petang, suasana jalan ini sudah sepi dan banyak toko yang sudah tutup. Dari sisi historis, tentu sejarah jalan ini sangat menarik. Tapi dari bentuknya sendiri saya bilang biasa saja. Saya masih lebih jatuh cinta melihat lorong-lorong di Macau, seperti jalan berbatu menuju ke Ruins of St. Paul. Hemm... yang penting puas sudah, sampai di pusat kota tuanya Taiwan!

Dan acara agak-agak 'lost in Tainan' hari ini ditutup dengan menunggu bus untuk balik menuju Tainan Train Station yang tak kunjung datang. Ada pilihan dua bus, yaitu No. 88 (shuttle bus) dan No. 2. Begitu semenit menunggu, mulai terasa serangan nyamuk-nyamuk bandel dimana-mana... Oh no, penderitaan hari ini belum berakhir! Dan mulailah berperang melawan nyamuk, tepuk sana sini pakai peta dan brosur, sambil menunggu bus yang baru muncul 45 menit kemudian!

What a day! Mudah-mudahan acara jalan-jalan di hari-hari berikutnya lebih menyenangkan. Walaupun boleh dibilang hari ini kurang beruntung karena banyak tempat wisata yang tidak sempat untuk disinggahi di Tainan... But the great thing about traveling is there's always a story to tell :)

No comments yet

Add new comment