Jagat kuliner Indonesia kembali menyita perhatian di Thailand. Setelah seblak lebih dulu ramai diperbincangkan warganet Thailand, kini muncul menu yang bagi orang Indonesia terasa sangat akrab: ayam goreng dengan sambal cabe ijo yang melimpah. Salah satu unggahan akun Instagram @cooking.by.su—kreator asal Thailand—memperlihatkan hidangan tersebut dengan label “ไก่ทอดอินโด” atau ayam goreng Indonesia.

Bagi lidah Indonesia, tampilannya langsung mengingatkan pada ayam geprek cabe ijo atau ayam penyet cabe ijo yang biasa kita temui di warung dan rumah makan kaki lima. Bedanya, kali ini sambal hijau itu disajikan di dapur Thailand, dipromosikan lewat video pendek, dan mendapat respons yang cukup besar dari pengguna media sosial di sana.

Bagi Anda yang sedang merencanakan perjalanan ke Bangkok, kabar seperti ini menarik karena dua hal. Pertama, ini menandakan makanan Indonesia—khususnya yang pedas—mulai punya tempat dalam percakapan kuliner Thailand. Kedua, bagi traveler Indonesia yang merindukan cita rasa kampung halaman di tengah liburan, geliat ini memberi petunjuk ke mana harus mencari.

Tulisan ini merangkum apa yang benar-benar terlihat pada unggahan tersebut, membandingkannya dengan ayam geprek dan ayam penyet yang kita kenal, membahas alasan lidah Thailand bisa menerimanya, lalu menutup dengan panduan praktis bila Anda ingin mengejar cita rasa Indonesia saat berada di Bangkok.


Ringkasan Cepat: Apa yang Sedang Ramai?

KategoriDetail
PlatformInstagram, akun @cooking.by.su (kreator asal Thailand)
Nama menu di unggahanไก่ทอดอินโด (kai thot indo) — “ayam goreng Indonesia”
Bentuk hidanganAyam goreng berbumbu dengan sambal cabai hijau bertekstur kasar
Padanan di IndonesiaPaling dekat dengan ayam penyet cabe ijo, disajikan ala ayam geprek
InteraksiLebih dari 8.000 likes, puluhan komentar, serta ratusan kali dibagikan dan diteruskan (per tangkapan layar unggahan)
KonteksMuncul setelah seblak lebih dulu menarik perhatian warganet Thailand

Catatan: angka interaksi di atas adalah data sesaat dari tangkapan layar yang beredar dan bisa terus berubah seiring waktu. Angka itu menunjukkan adanya perhatian, bukan bukti bahwa sebuah menu sudah menjadi tren nasional.


Ayam Goreng Indonesia Bersambal Hijau di Instagram

Dalam video tersebut, ayam terlebih dahulu dimasak bersama rempah dan daun aromatik sebelum digoreng hingga bagian luarnya kecokelatan. Setelah matang, ayam disajikan dengan sambal hijau dalam jumlah yang cukup banyak, seolah menjadi bintang utamanya—bukan sekadar pelengkap.

Ayam Berbumbu, Bukan Ayam Tepung

Salah satu hal yang membuat hidangan ini terasa “sangat Indonesia” adalah cara pengolahan ayamnya. Ayam yang terlihat di video bukan ayam goreng berbalut tepung yang renyah dan mengembang, melainkan ayam berbumbu yang dimasak bersama rempah lebih dulu, lalu digoreng.

Pendekatan inilah yang membuat penampilannya lebih dekat ke ayam penyet ketimbang ayam kremes atau ayam crispy. Warna ayamnya cenderung merata, teksturnya padat, dan aromanya disebut kuat karena bumbu meresap sebelum proses menggoreng.

Sambal Hijau yang Masih Bertekstur Kasar

Bagian yang paling menarik perhatian justru sambalnya. Sambal itu terlihat masih bertekstur kasar: potongan cabai hijau dan bijinya masih tampak jelas, bukan sambal halus yang diblender panjang. Penampilan seperti ini sangat mirip dengan sambal cabe ijo yang biasa menemani ayam penyet, ikan bakar, atau nasi Padang di Indonesia.

Dalam keterangan unggahan tersebut, kreatornya menuliskan kurang lebih:

“Ayam goreng Indonesia. Renyah di luar, lembut di dalam, aromanya harum. Dipadukan dengan sambal pedas, enak sekali.”

Unggahan itu juga memakai tagar berbahasa Thailand yang merujuk langsung pada ayam goreng Indonesia, sehingga penonton dari Thailand tidak perlu menebak-nebak asal hidangannya.


Ayam Geprek, Ayam Penyet, dan Versi Thailand Ini: Apa Bedanya?

Bagi orang Indonesia, menu dalam video tersebut mungkin sulit dimasukkan secara persis ke satu kategori. Ayam geprek umumnya identik dengan ayam goreng tepung yang kemudian digeprek bersama sambal di atas cobek, sedangkan ayam penyet biasanya memakai ayam berbumbu yang digoreng lalu ditekan atau “dipenyet” dan disantap bersama sambal.

Versi yang muncul di Thailand ini terlihat lebih dekat dengan ayam penyet cabe ijo, karena ayamnya tampak berbumbu alih-alih berbalut tepung tebal. Namun cara penyajian sambal hijau yang ditumpuk banyak di atas ayam juga sangat mengingatkan pada tren ayam geprek cabe ijo di Indonesia.

MenuAyamSambalCara PenyajianAkar di Indonesia
Ayam geprekAyam goreng berbalut tepung, renyah di luarSambal bawang, sambal matah, atau cabe ijoDigeprek/ditekan bersama sambal di atas cobek, lalu disiramYogyakarta dan sekitarnya
Ayam penyetAyam berbumbu (diungkep) lalu digorengSambal terasi, sambal cabe ijo, sambal korek“Dipenyet” di cobek, sambal ditumpuk di atasnyaJawa Timur, menyebar luas di seluruh Indonesia
Versi di Thailand iniAyam berbumbu rempah dan daun aromatik, digorengSambal cabai hijau kasar dan pedasSambal hijau dalam porsi besar di atas ayamDiadaptasi dari gaya ayam penyet/geprek cabe ijo

Apa pun penyebutannya, identitas Indonesianya cukup jelas: ayam goreng berbumbu, sambal dalam jumlah melimpah, dan rasa pedas sebagai daya tarik utama. Kombinasi inilah yang membuat hidangan tersebut mudah dikenali, bahkan oleh orang yang belum pernah mencoba masakan Indonesia sebelumnya.


Kenapa Sambal Cabe Ijo Diterima Lidah Thailand?

Thailand bukan negeri yang asing dengan cabai. Masakan sehari-hari di sana sudah akrab dengan rasa pedas—dari som tam, tom yum, hingga nam prik (aneka sambal Thai yang diulek di cobek) dan prik nam pla (cabai dengan kecap ikan) yang selalu tersedia di meja warung. Karena itu, konsep “lauk goreng plus sambal pedas” bukan hal yang aneh bagi penonton Thailand.

Ada beberapa titik temu yang membuat sambal cabe ijo terasa masuk akal di sana:

  • Pedas sebagai rasa utama. Baik masakan Thailand maupun Indonesia menempatkan pedas sebagai sensasi, bukan sekadar bumbu tambahan.
  • Sambal yang diulek, bukan diblender. Budaya cobek dan ulekan hidup di kedua negara. Nam prik Thailand pun diulek kasar, sehingga tekstur sambal cabe ijo yang “tidak rata” justru terasa familiar.
  • Fermentasi dan seafood. Penggunaan terasi pada banyak sambal Indonesia punya kerabat dekat di Thailand, yaitu kapi (terasi udang) yang dipakai dalam berbagai masakan dan cocolan.
  • Aroma daun dan rempah. Cara memasak ayam bersama rempah dan daun aromatik sebelum digoreng mengingatkan pada pendekatan Thai yang rajin memakai serai, daun jeruk, dan lengkuas.

Bukti paling sederhana justru ada pada bahannya. Ayam, cabai hijau, bawang, tomat, dan terasi mudah ditemukan di pasar maupun supermarket Thailand, sehingga orang Thailand yang ingin meniru hidangan ini di rumah tidak perlu berburu bahan impor.

Yang tentu saja berbeda adalah karakternya. Sambal cabe ijo umumnya gurih, asin, dan pedas membara, sementara cocolan Thailand lebih sering bermain di wilayah asam-manis-pedas. Jadi jika Anda menawarkan hidangan ini kepada teman Thailand, ada baiknya menyesuaikan tingkat kepedasan lebih dulu—tanyakan saja apakah mereka nyaman dengan pedas level Indonesia.


Setelah Seblak: Makanan Indonesia yang Menyebar Lewat Video Pendek

Kemunculan ayam sambal cabe ijo ini menarik karena terjadi setelah makanan Indonesia lain seperti seblak lebih dulu mencuri perhatian di media sosial Thailand. Ada benang merah yang cukup jelas: keduanya menawarkan sensasi pedas, gurih, kaya bumbu, dan aroma rempah, dengan tampilan yang langsung “menjual” di layar ponsel.

Format video pendek membuat makanan seperti ini menyebar cepat di Thailand, dan pola penyebarannya cukup bisa ditebak:

  • Kontras warna yang kuat. Ayam kecokelatan berpadu sambal hijau pekat menghasilkan gambar yang menarik bahkan sebelum ada penjelasan apa pun.
  • Tekstur sebagai daya tarik utama. Klaim “renyah di luar, lembut di dalam” adalah tipe deskripsi yang mendorong orang menonton sampai habis dan mencari video lain yang serupa.
  • Porsi sambal yang berlebihan. Sambal yang menumpuk bukan sekadar soal rasa, melainkan juga “efek visual” yang mengundang komentar, debat soal level pedas, dan sharing.
  • Mudah ditiru di rumah. Karena bahannya tersedia di sana, penonton bisa langsung mencoba memasaknya sendiri—dan itu memicu gelombang unggahan lanjutan.
  • Label yang jelas. Sebutan ไก่ทอดอินโด (ayam goreng Indo) memberi penonton Thailand kata kunci yang spesifik untuk dicari.

Dengan pola seperti itu, bukan tidak mungkin ayam geprek, ayam penyet, sambal matah, sambal bawang, hingga olahan rica-rica menyusul. Semuanya punya karakter serupa: protein yang mudah diterima, sambal yang mencolok, dan tingkat kepedasan yang bisa diperdebatkan di kolom komentar.

Perlu ditegaskan, viralnya satu unggahan belum cukup untuk menyimpulkan bahwa kuliner Indonesia sudah menjadi tren nasional di Thailand. Yang bisa dikatakan dengan aman adalah bahwa respons terhadap unggahan-unggahan semacam ini menunjukkan kuliner pedas Indonesia mampu menarik perhatian audiens Thailand, khususnya mereka yang aktif di media sosial.


Menikmati Kuliner Indonesia saat Berada di Bangkok

Sebelum berburu, ada satu hal yang perlu diluruskan: @cooking.by.su adalah akun memasak rumahan, bukan restoran. Jadi jangan mencari alamat kedai berdasarkan unggahan itu. Yang bisa Anda lakukan adalah menjadikannya inspirasi, lalu mencari sendiri tempat yang menyajikan cita rasa serupa selama berada di Bangkok.

Bangkok sendiri adalah kota yang cukup ramah untuk pencarian seperti ini karena komunitas ekspat dan pekerja asing di sana beragam, termasuk dari Indonesia dan negara Asia Tenggara lain. Beberapa cara praktis berikut biasanya lebih efektif daripada sekadar berjalan kaki tanpa arah:

  • Cari dengan kata kunci Thailand. Di Instagram atau TikTok, gunakan ไก่ทอดอินโด (ayam goreng Indo) atau อาหารอินโดนีเซีย (makanan Indonesia). Warung dan koki yang menyasar komunitas lokal biasanya memakai kata kunci berbahasa Thailand.
  • Manfaatkan peta digital. Telusuri kata kunci seperti “Indonesian restaurant”, “nasi padang”, atau “warung” di Google Maps, lalu baca ulasan terbaru—terutama dari pengulas berbahasa Indonesia—untuk memastikan rasanya masih sesuai ekspektasi.
  • Telusuri kawasan dengan komunitas internasional. Kawasan sekitar Sukhumvit, Silom, hingga Nana dan Phrom Phong dikenal punya banyak pilihan makanan internasional, termasuk makanan Asia Tenggara dan restoran muslim.
  • Cek status halal bila diperlukan. Thailand punya banyak restoran bersertifikat halal, terutama di sekitar masjid besar dan kawasan dengan komunitas muslim. Cari logo halal resmi atau tanyakan langsung ke pengelola.
  • Periksa jam buka. Banyak kedai kecil tutup pada hari tertentu atau hanya buka pada jam makan. Konfirmasi lewat unggahan terbaru atau telepon sebelum datang.
  • Bersiap dengan ekspektasi rasa. Selera lokal kadang disesuaikan dengan lidah setempat, jadi jangan kaget bila sambalnya terasa lebih manis atau tidak sepedas aslinya.

Sebagai gambaran kuliner Bangkok secara umum—dari Yaowarat yang berubah menjadi panggung makanan jalanan setiap malam hingga food court di mal besar—lihat panduan induk wisata Bangkok. Di sana juga dibahas kawasan makan, kisaran harga, dan tips memilih warung yang ramai.

Kosakata Thai yang Berguna saat Berburu Kuliner

Mengetahui beberapa istilah dasar akan sangat membantu, baik saat membaca menu maupun ketika memesan.

Istilah ThaiTransliterasiArti
ไก่ทอดkai thotAyam goreng
พริกphrikCabai
เผ็ดphetPedas
ไม่เผ็ดmai phetTidak pedas
อร่อยaroiEnak
ข้าวkhaoNasi
อาหารอินโดนีเซียahan indonesiaMakanan Indonesia

Kalau Anda ingin lebih lancar berkomunikasi selama di Thailand—termasuk cara sopan meminta menu tidak pedas—lihat Bahasa & Komunikasi: Menavigasi Bahasa di Thailand.


Catatan Editorial: Yang Sudah dan Belum Bisa Dipastikan

Karena tren media sosial bergerak cepat, penting untuk memisahkan apa yang benar-benar terlihat dari apa yang masih dugaan.

Yang sudah terlihat pada unggahan:

  • Adanya unggahan akun Instagram Thailand @cooking.by.su yang menampilkan ayam goreng dengan sambal hijau.
  • Penggunaan sebutan ไก่ทอดอินโด (ayam goreng Indonesia) beserta tagar berbahasa Thailand.
  • Interaksi berupa lebih dari 8.000 likes, puluhan komentar, serta ratusan kali dibagikan dan diteruskan, sesuai tangkapan layar yang beredar.

Yang belum bisa dipastikan:

  • Apakah hidangan ini sudah dijual secara luas di Thailand, atau sejauh ini masih sebatas konten memasak rumahan.
  • Apakah popularitasnya berlanjut menjadi tren nasional atau berhenti sebagai momen viral sesaat.
  • Apakah versi yang disebut “ayam goreng Indonesia” itu mengikuti resep tertentu (misalnya gaya Padang atau Jawa Timur) atau merupakan interpretasi bebas kreatornya.

Nomor, angka interaksi, dan isi unggahan media sosial dapat berubah serta hilang seiring waktu. Bila Anda ingin memverifikasi langsung, bukalah akun yang bersangkutan di Instagram dan periksa unggahan terbarunya.


Penutup: Sinyal Kecil dari Dapur Thailand

Setelah seblak, giliran ayam goreng bersambal cabe ijo yang muncul di percakapan kuliner Thailand. Bagi orang Indonesia, hidangan ini terasa seperti pulang ke rumah: ayam berbumbu, sambal hijau yang kasar, dan pedas yang jujur. Bagi penonton Thailand, kombinasinya terasa baru—tetapi tidak asing, karena pedas, cobek, dan terasi sudah menjadi bagian dari tradisi masak mereka.

Apakah ini awal dari gelombang berikutnya, hanya waktu yang bisa menjawab. Yang jelas, kuliner Indonesia punya banyak kandidat dengan karakter serupa: ayam geprek, ayam penyet, sambal matah, sambal bawang, hingga rica-rica. Semuanya punya bahan yang mudah ditemukan, tampilan yang fotogenik, dan tingkat kepedasan yang bisa diperdebatkan di kolom komentar—tiga modal utama untuk menyebar lewat video pendek.

Kalau perjalanan Anda berikutnya membawa ke Bangkok, jadikan ini alasan kecil untuk berburu kuliner Indonesia di sana. Mulailah dari panduan induk wisata Bangkok untuk urusan kawasan, transportasi, dan kuliner lokal, lalu pelajari konteks negaranya lewat Panduan Wisata Thailand dan Panduan Perjalanan Thailand Terlengkap.

Sebelum berangkat, dua bacaan ini juga membantu: Etika Budaya: Memahami Norma Sosial Thailand agar perilaku Anda sesuai kebiasaan setempat—terutama saat makan di warung kecil—dan Negeri Senyuman: Memahami Identitas dan Keramahtamahan Thailand untuk memahami mengapa keramahan lokal terasa begitu khas.

Catatan: Artikel ini disusun dari unggahan media sosial dan tangkapan layar yang beredar publik. Travelawan tidak berafiliasi dengan akun atau merek yang disebutkan. Angka interaksi, nama akun, dan isi konten dapat berubah sewaktu-waktu. Nama tempat, kawasan, serta ketentuan kuliner di Bangkok dapat berubah; selalu verifikasi melalui kanal resmi atau ulasan terbaru sebelum berkunjung.