Cerita Sejarah Monas

Sejarah Monas: cerita perjalanan menyusuri Monumen Nasional di Jakarta Pusat, dari gagasan Soekarno, lidah api emas, museum, hingga pelataran puncaknya.

By Awan Yulianto 4 menit baca
Lidah api emas di puncak Monas, ikon Monumen Nasional Jakarta Pusat dalam cerita sejarah Monas
Lidah api berlapis emas di puncak Monas, Jakarta Pusat.
Di halaman ini

Halo, kali ini saya berada di kawasan Monumen Nasional, atau yang lebih akrab kita sebut Monas, di Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Dari sini terlihat tugu tinggi dengan lidah api berwarna emas di puncaknya. Bagi saya, sejarah Monas bukan sekadar catatan tentang sebuah bangunan, melainkan cerita tentang bagaimana sebuah bangsa ingin mengenang perjuangannya.

Monas bukan hanya ikon kota Jakarta. Monumen ini dibangun untuk mengenang perjuangan rakyat Indonesia dalam meraih kemerdekaan, dan hampir setiap sudutnya menyimpan makna yang bisa kita baca.

Awal Mula Gagasan Sejarah Monas

Sambil menikmati kawasan ini, saya ingin bercerita sedikit tentang sejarah pembangunannya. Gagasan yang menjadi awal sejarah Monas muncul pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, sekitar tahun 1954. Bung Karno ingin Indonesia memiliki monumen yang bisa mengingatkan generasi berikutnya tentang perjuangan melawan penjajahan, khususnya kolonialisme Belanda.

Untuk menentukan bentuknya, pemerintah mengadakan sayembara rancangan, dan proses pemilihannya berlangsung dalam beberapa tahap. Dua nama yang kemudian berperan penting adalah arsitek Frederich Silaban dan R.M. Soedarsono. Presiden Soekarno sendiri ikut memberi arahan terhadap konsep bangunan yang akhirnya diwujudkan.

Peletakan Batu Pertama 17 Agustus 1961

Pembangunan Monas dimulai pada 17 Agustus 1961, tepat saat Indonesia memperingati hari kemerdekaannya yang ke-16. Tanggal peletakan batu pertama memang dipilih bertepatan dengan momen yang sangat penting bagi bangsa ini.

Namun prosesnya tidak berjalan mulus. Monas dibangun selama bertahun-tahun dan sempat menghadapi hambatan, termasuk perubahan situasi politik dan pemerintahan pada akhir tahun 1960-an. Setelah melalui berbagai tahap, Monas akhirnya resmi dibuka untuk umum pada 12 Juli 1975 oleh Presiden Soeharto.

Makna Bentuk Bangunan Monas

Sekarang coba kita perhatikan bentuk bangunannya. Tinggi Monas mencapai sekitar 132 meter, dan desainnya berkaitan erat dengan budaya masyarakat Indonesia. Bagian tugu yang menjulang sering dijelaskan sebagai bentuk alu, sedangkan bagian cawan di bawahnya melambangkan lumpang. Alu dan lumpang adalah alat tradisional untuk menumbuk padi yang akrab dengan kehidupan masyarakat agraris. Bentuk ini juga dikaitkan dengan konsep lingga dan yoni yang melambangkan kesuburan dan keseimbangan.

Ada pula unsur angka kemerdekaan yang dimasukkan ke dalam rancangan. Angka 17, 8, dan 45 mengingatkan kita pada tanggal proklamasi, 17 Agustus 1945. Salah satu contohnya adalah pelataran cawan yang berukuran 45 kali 45 meter, sementara sejumlah penjelasan menghubungkan tinggi cawan sekitar 17 meter dengan angka kemerdekaan tersebut.

Lidah Api Emas di Puncak Monas

Bagian yang paling mudah dikenali adalah lidah api berlapis emas di puncak Monas. Bentuk api ini melambangkan semangat perjuangan bangsa Indonesia yang terus menyala. Tinggi lidah apinya sekitar 14 meter. Pada awalnya, lapisan emas yang digunakan memiliki berat sekitar 35 kilogram, dan salah satu tokoh yang dikenal berkontribusi menyumbangkan emas adalah Teuku Markam, pengusaha asal Aceh.

Kemudian pada tahun 1995, ketika Indonesia memperingati 50 tahun kemerdekaan, lapisan emas pada lidah api ditambah sehingga totalnya menjadi sekitar 50 kilogram. Jadi bagian emas yang kita lihat sekarang punya cerita tersendiri dalam perjalanan monumen ini.

Museum Sejarah Nasional dan Ruang Kemerdekaan

Monas juga punya beberapa ruangan yang bisa kita kunjungi, bukan cuma area taman di luarnya. Di bagian dasar terdapat Museum Sejarah Nasional yang menampilkan 51 diorama tentang berbagai periode sejarah Indonesia, mulai dari masa kerajaan di Nusantara, perjuangan melawan penjajahan, hingga perkembangan Indonesia setelah merdeka.

Di bagian lain ada Ruang Kemerdekaan yang menyimpan simbol kebangsaan, termasuk lambang Garuda Pancasila dan peta wilayah kepulauan Indonesia. Salah satu bagian menariknya adalah pintu khusus yang berkaitan dengan penyajian teks proklamasi dan rekaman suara Bung Karno saat membacakan proklamasi kemerdekaan.

Kalau naik menggunakan lift menuju pelataran puncak, kita bisa melihat Jakarta dari ketinggian sekitar 115 meter. Dari atas, pemandangan kota terlihat jauh lebih luas: kawasan Medan Merdeka dan gedung-gedung yang mengelilinginya. Tersedia juga teropong untuk membantu pengunjung melihat objek yang lebih jauh.

Menyusuri Sejarah Monas Hari Ini

Setelah mengetahui ceritanya, saya jadi lebih memahami mengapa Monas dibangun di pusat Jakarta dan menjadi salah satu simbol nasional yang paling dikenal. Monas bukan hanya tempat wisata atau lokasi menikmati pemandangan kota, tetapi juga pengingat tentang perjuangan kemerdekaan, gagasan besar pada masa Presiden Soekarno, serta proses pembangunan yang berlanjut sampai masa Presiden Soeharto.

Sekarang kawasan Monas menjadi salah satu tujuan wisata sejarah dan edukasi yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Banyak orang datang untuk berjalan-jalan, berfoto, mengunjungi museum, atau naik ke pelataran puncaknya. Kalau ingin menyusuri kawasan di sekitarnya, baca juga panduan wisata Jakarta Pusat dan halaman Monumen Nasional, atau lihat sumber resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Sumber dan Referensi Bacaan

Untuk memperkaya cerita sejarah Monas ini, saya juga merujuk pada beberapa bacaan berikut: Wikipedia: Monumen Nasional, Bapenda Jakarta, Taman Kebangsaan Universitas Jember, dan LBI FIB Universitas Indonesia.

Konten di wilayah ini